Ashoka 212

Bagikan
Di kerajaan Magadha, Chanakya mengatakan kepada Ashoka bahwa ibunya pernah mengatakan kepada ayahnya untuk menjadikan dirinya menjadi seorang pewaris yang menggantikan yang mulia Bindusar.
Ashoka bingung tentang apa yang sebenarnya ibunya katakan kepada ayahnya, hingga membuat ayahnya begitu kesal dengan ibunya.
Chankya bilang pada ashoka bahwa sebetulnya ayahnya sebagai raja pun bingung dan juga heran dengan perubahan sikap ibunya yang aneh, bahkan ayahnya tidak mau menyebut namanya sebagai Dharma tetapi Shubatrangi, chanakya berkeyakinan bahwa ayahnya pun punya alasan untuk menyebut nama ibunya seperti itu. Chanakya merasa sangat curiga dengan semua tingkah laku ibunya, kemudian Ashoka menjelaskan sikap ibunya yang aneh semenjak ayahnya dan juga Chanakya pergi untuk sementara waktu. 
Ashoka menceritakan perubahan aneh yang dialami ibunya lalu kemudian ia juga menceritakan orang yang membantu dirinya dan juga merawat ibunya, ia menceritakan semua kapada Chanakya, ialah Maharani Cahrumitra. 
Kilas balik : ketika Dharma mendadak pusingdan mendengarkan suara bising yang menggema ditelinganya, lalu suatu ketika Ashoka panik mencari ibunya tapi ternyata, Dharma berjalan dengan pandangan dan pikiran kosong menuju tepian jurang, kemudian Charu datang dan berbaik hati membantu menyelamatkan ibunya, dan ketika Charu mau membantu dirinya serta merawat ibunya, dan membelanya di hadapan Susima.
Mendengarkan semua cerita Ashoka, Chankya pun juga menaruh rasa curiga dengan perubahan sikap cahru yang tiba-tiba sangat baik dan perhatian kepada ibunya (Dharma)
Chankya pun berfikir:”Sebenarnya apa yang direncanakan oleh maharani Charumitra?
Beberapa saat mereka berbincang, seorang Prajurit datang keruangan Chankya dan memberitahu jika dirinya sudah ditunggu oleh yang mulia Bindusar dan semua orang di pengadilan, Bindu memintanagar Chanakya untuk segera hadir diruang persidangan, ujar prajurit kepada Chanakya
Diruang persidangan, Bindu amat sangat gelisah dan semua orang sangat tegang, Chanakya datang kepengadilan, Yang mulia Bindusar memberikan salam pada Chanakya.
Yang mulia Bindusar meminta agar prajurit membuka penutup nampan, Kaalatak tersenyum licik. 
Paparan wajah Charumitra dan juga ibu suri Helena pun sangat penasaran dan ingin tahu tentang isi nampan itu.
Ketika nampa terbuka, semua orang dan chankya terkejut, potongan kepala seseorang di sajikan sebagai bukti tindak kekejaman.
Chanakya :” itu kepala milik orang dari Negara Dakshseela”, tetapi Chanakya bingung tentang siapa orang yang sudah melakukan kekejaman itu.
Prajurit mengatakan kepada yang mulia bindusara :”Raja, apakah ini tidak masalah orang yang melakukan ini sangat kejam”
Bindu : “Beritahulah apa yang sudah kalian alami, Sehingga aku bisa mengambil keputusan ”
“kota kami diserang oleh bebrapa orang asing, dan kami sangat kesulitan menghadapi mereka, mereka melakukan kekerasan, mereka tidak punya aturan dan juga mereka tidak takut untuk mati”, ujar prajurit meneruskan ucapan prajurit.
Canakya memberikan pendapatnya kepada yang mulia Bindusar :” Jika aku harus tahu tentang hal itu, maka Kaalatak pun juga harus mengetahuinya bahkan ia tidak berfikir untuk mengambil tindakan apapun”
Mendengar sindiran dari ucapan Acjharya Chanakya, Kaalatak langsung panik dan ia bangun dari tempat duduknya, ia pun mulai berdalih :” Tidak raja, aku sudah pernah mengirimkan surat tetapi tidak mendapatkan balasan apapun”
Bindu :” Aku akan pergi ke kota itu”
Ibu suri Helena memberikan pendapatnya kepada Bindu di persidangan: “Jika memang begitu,aku akan meminta bantuan kepada ayah ku, Negaranya sangat dekat dengan Daksahseela”
Tetapi yang mulia Bindusar menolak usulan ibu tirinya:”Tidak ibu, jika seperti itu semua orang akan benar-benar berfikir bahwa pasukan Magadha sangatlah lemah, sehingga harus membutuhkan bantuan orang lain, akulah yang akan pergi ke Dakshsheela”
Chanakya memberikan pendapatnya kepada Bindu :” Kau baru saja kembali ke Magadha setelah begitu banyak masalah yang ada disini, kau masih sangat dibutuhkan disini”
Bindu bingung dan bertanya kepada Chankya :” Lalu siapa yang akan pergi ke kota Dakshsheela, Acharya ?”
Chankya :” Putra tertua mu, Susima”. Dengan cara ini Susima akan belajar banyak tentang sesuatu dan kita akan mengetes kemampuannya, karena itu lebih baik mengirim Susima ke Dakshsheela”
Kaalatak keberatan, ia tidak setuju dan mengatakan pendapatnya :”Dengan hal ini aku sama sekali tidaklah setuju, tentunya ini bukanlah waktunya yang tepat untuk mengirim Susima belajar tentang sesuatu ataupun mengujinya, Susima masihlah sangat muda, ia belum mempunyai banyak pengalaman, kita perlu memberikan kesempatan ini kepada Ashoka, dengan pilihan kedua ini maka dua orang saudara akan saling menghormati satu sama lainnya”
Chankya mengutarakan pendapatnya ketika ia mendengarkan Mahamadya Kaalatak : “ Mahamadya, apapun yang sudah terjadi sekarang, ini sudah membuktikan bahwa Ashoka telah mengambil keputusan yang sangat tepat, Ashoka tidak bisa menangani perang, ia sangat emosian sama sekali tidak mengetahui tentang cara berperang dan menangani perang, Ashoka hanya mempunyai dasar keterampilan kepemimpinannya saja”
Kaalatak yang masih dengan semua pendapatnya, ia kembali berpendapat dan mengutarakan pendapatnya dari sudut pandangnya :”Tetapi kita semua sudah tahu tentang dasar keterampilan Ashoka dalam bertarung, bukankah Ashoka sudah melindungi anggota keluarga kerajaan, itu menunjukan Ashoka sangat mampu dalam kemampuan kepemimpinan saja, lalu mengapa ketika Ashoka datang menemui Rani Niharika pada saat itu, Niharika mau membicarakan tentang perdamian?”
Chankaya :” Disini, aku sama sekali tidak mengatakan bahwa Ashoka tidak mampu, tetapi lebih merasa bahwa Susimalah yang layak untuk dikirim ke Daksahseela”
Bindu :” Kedua putra ku memiliki kemampuan, apapun yang terjadi sekarang, aku akan menguji kemampuan mereka berdua, lalu aku akan segera mengirim diantara mereka yang akan pergi ke Dakshsheela”
Semua orang berdiri ketika yang mulia Bindusar pergi dari pengadilan, 
Dengan pikiran yang sangat licik, ibu suri Helena :” Mereka sama sekali tidak mengetahui apa yang akan segera terjadi diisatana”
Di kordior istana, Chanakya dan juga Radhagupta sedang berbincang.
Radhagupta ketika itu bertanya kepada Chanakya :”Mengapa Mahamadya mau mengirimkan Ashoka untuk pergi ke Dakshsheela?. Ku rasa dalam hal ini, Susima tidak akan pernah mampu melakukan apapun disana”
Chankya :” Aku hanya ingin Ashoka menghabisakn waktu bersama dengan ayahnya, mungkin saja kita mampu untuk menangani gejolak di Dakshsheela, tetapi dalam hal ini, jika Susima menjadi raja maka seluruh Negara India akan hancur terbagi, jadi itulah mengapa aku menginginkan Susima menunjukkan keahliannya didepan semua orang, Ashoka bisa memberikan kehidupannya untuk tanah airnya, tetapi ia tidak akan pernah bisa membunuh dan menyakiti orang lain, sedangkan Susima, ia dapat membunuh orang laini untuk melindungi dirinya sendiri, Ashoka sangat membutuhkan dukungan dari ayahnya, dan yang terpenting dalam hal ini, menghapus batas ruang antara Bindu dan juga Ashoka, sekarang Ashoka harus lebih banyak belajar, waktulah yang akan segera membuktikannya”
Dikamar yang Mulia Bindusar, ia sangat cemas dan mondar-madir di kamarnya, Bindu duduk di tepian tempat tidurnya dan ia sedang merenung. Susima datang menepuk pundak ayahnya. Bindu tersadar bahwa putra tertuanya sedang bicara kepadanya.
Susima :” Ayah maafkan aku, aku tahu apa yang sudah ku lakukan pada putri Ahenkara sangatlah keterlaluan, dan membuat mu menjadi begitu sangat sedih dengan hal itu, tetapi bagi ku setiap kali aku melihatnya, aku juga melihat sosok penghianatan ayahnya, aku tidak akan pernah melupakan orang tua Ahenkara yang memang ingin membunuh orang tua ku, lalu bagaimana aku bisa percaya pada putri Ahenkara, karena memang dia putri dari seorang penghianat”
Bindu : “Susim, jika memang kau tidak mau menikahinya kau bisa bicara pada ku, kau tidak boleh menyiksa dan melakukan kekerasan pada Ahenkara”
Susima :” Ayah, aku pernah ingin membicarakan semua ini kepada mu, tetapi kau selalu tidak pernah mempunyai waktu untuk ku, kau hanya punya waktu hanya untuk Ashoka saja”
Bindu :” Aku selalu bersedia untuk mendengarkan masalah mu”
Suisma berlurtut dihadapan ayahnya dan mencakupkan tangannya, ia meminta kepada ayahnya agar diberikan satu kali kesempatan agar ia menjadi seorang anak yang baik”
Bindu :” Aku akan memberikan mu satu kesempatan, Susim “
Bindu menjelelaskan :” Beberapa orang sudah menyerang kota Dakshsheela, kami harus menghentikannya, ini keinginan ku agar kau mau pergi kesana dan menghentikan semua kekacauan disana untuk dapat mengentikan semua musuh”
Susima :” Aku?”. Sungguh aku tidak percaya pada mu ayah, kau akan memilih aku untuk pekerjaan yang sangat besar ini, aku akan pergi”
Susima menyentuh kaki ayahnya dan mengatakan :” Aku akan memenuhi semua harapan mu pada ku ayah”
Bindu memberkati Susima
Susima pergi dari kamar Bindu
Di kamar pribadi Charu, Kaalatak datang menemui susima
Kaalatak mengatakan kepada Susima :” Apa yang sudah kau lakukan, itu merupakan kesalahan”
Cahru :”Yang terpenting sekarang, Susima mendapatkan kesempatan ini bukan Ashoka, cara ini akan membuktikan kehaliannya”
Kaalatak menjelaskan :” Aku sudah mengusulkan nama Ashoka untuk pergi ke medan laga (Dakshseela, tempat kekacauan sedang terjadi). Ini akan seperti Mess, ada begitu banyak kekacauan yang terjadi di Dakshsheela, dan hanya ada satu orang dibalik semua itu, ia raja baru yang sangat kejam.
Kilas balik ketika prajurit memecuti semua penduduk dan memperlakukan para penduduk dengan sangat kejam, dan ketika prajurit membantai semua pandit yang sedang melakukan pemujaan.
Cahru meminta solusi pada Mahamdya Kaalatak, ketika ia mendengarkan saran Kaalatak, ia langsung merasa Khawatir dan mencemaskan putranya : ” Lalu bagaimana kita akan menghentikan agar Susima tidak pergi ke Daksahseela?”
Kaalatak berpendapat :” Hal ini sudah tidak memungkinkan, Bindu tidak akan pernah merubah keputusannya, lagi pula Chankya sudah menyebutkan nama Susima sebelumnya”.
Susima :”Kalian Jangan khawatir tentang hal itu, aku akan merubah semua keputusan ku”
Susima tertawa dengan keputusan bodohnya yang telah ia ambil sebelumnya
Malam hari, dua orang prajurit sedang berjaga-jaga di atas koridor istana Magadha, prajurit mengatakan malam ini kita akan terus berjaga-jaga. 
Helena berada di sana saat kedua prajurit pergi memeriksa keadaan.
Ibu suri Helena mengambil obor di tembok dan melambaikannya.
Helena memberikan sinyal dengan obor dari atas koridor istana Magadha kepada Noor dan Dastan dari atas koridor istana
Noor dan Dastan melihat sinyal nyala api obor dari kejauhan. 
Noor dan Dastan akan menyerang istana Magadha dengan semua pasukannya
Noor :” Helena sudah memberikan kita petunjuk, lihatlah Dastan, bukankan aku telah mengatakan pada mu bahwa Helena memang benar ia berada di pihak kita”
Dastan :” Bukankah kau datang bersama dengan diri ku, jika kau mau menipu ku akan akan membunuh mu di depan mata putra mu”
Mendengar ucapan Dastan raut wajah Noor yang bahagia berubah menjadi raut wajah yang cemberut, ” Baiklah, kau harus melewati pos pemeriksaan dan mebunuh semua prajurit, Aakramak akan mengenali tentang serangan ini”, ujar Noor kepada Dastan.
Dastan :” Akan ku bunuh semua orang yang ada disana”
Noor bersemangat dan ia menutup wajahnya, Dastan memberikan semangat pada semua prajuritnya untuk melakukan serangan.
Semua prajurit Dastan terus bersorak sorai dan beresemangat untuk membuat kekacauan di Istana Magadha
Di koridor istana Magadha, ibu suri Helena mengatakan kepada dirinya sendiri “Ketika semua orang di Magadha sedang terlelap tidur dengan tenang, maka semua impian purta ku Justin akan terpenuhi dan Chankya tidak akan pernah bisa menghentikannya”

Perecap : Dastan berhasil memasuki istana Magadha dan menyerang yang Mulia Bindusar, Yang mulia Bindusar dan Dastan bertarung, Ashoka menenadang Dasatan hingga Dastan terjatuh, 
Ashoka membawa Noor kehadapan yang mulia Bindusar, 
Chankya terikat di tiang, kobaran api disekeliling Chanakya, ia berusaha untuk melepaskan dirinya, seorang prajurit akan segera menyerang yang mulia bindusara saat ia diikat dengan anak panah, Dastan mendapatkan kemenangannya tetapi Ashoka akan kehilangan seseorang yang sangat di cintai oleh Dhrama, 
Dharma pun juga di tawan oleh pasukan Dasatan dan di taruh dipapan pemenggalan, Ashoka berteriak “Jangan” ketika prajurit akan menghempaskan pedang.
Sumber http://www.portalsinopsis.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *