Ashoka 209

Bagikan

Diruang pengobatan, permaisuri dharma masih membujuk cahru yang masih berkeras hati tentang niat baik permaisuri Dharma untuk mengobati Susima

Dharma :”Kau dan aku akan kehilangan putra kita, pikirkanlah untuk menyelamatkan salah satu diantara mereka”

Cahru menangis sedih dan menatap putranya yang masih sekarat dan kemudian ia melangkah mundur dan mengijinkan Dharma mengobati putranya.

Dharma langsung berlari menemui susima, ia kemudian langsung memberitahu kepada tabib tentang langkah yang harus mereka lakukan.

Dharma menjelaskan pembuluh darah di sekitar perut susima sudah menghitam, salah pengobatan akan mengaibatkan kematian pada susima

Cahru :”Tidak, kau katakan apa maksudmu akan membahayakn nyawa putra ku”

Dharma :”Tenanglah maharani, aku akan berusaha”

Dharma mulai memberitahu langkah pertama yang akan di lakukannya, kemudian ia memberitahu tabib tentang obat-obatan herbal yang harus diracik untuk dilakukan sebagai pengobatan dari luar dan dalam.

Dharma mulai melakukan pengobatan dari luka susima, ia meberikan krim obat pada luka yang sudah menghitam

Malam hari, ahenkara datang menemui ashoka di penjara dengan membawa adik kecilnya, ahenkara menangis sedih melihat keadaan ashoka

Ahenkara :” Apa yang harus aku lakukan untuk mu ashok?”. Aku sudah mencoba untuk mengatakan yang sebanarnya kepada yang mulia, tapi semua usaha ku gagal, ia tidak mau mempercayai ucapan ku”

Ashoka mengatakan :” Lupakanlah, aku sudah begitu bebas menyebabkan rasa sakit hati dalam hati mu untuk saat ini dan juga di masa lalu mu ahenkara”

Ahenkara bertanya kepada ashoka :”Bagimana kehidupan ku setelah kedua orang tua ku direnggut dari kehidupan kami ashok?”

Ashoka dan juga ahenkara saling meminta maaf satu sama lain

Ashoka mengambil adik kecil ahenkara dan menggendongnya dalam pelukannya

Ashoka meminta :”Rawatlah adik mu dengan penuh cinta dan kasih sayang, jangan kau katakan kepadanya tentang Murya yang telah menyakiti mu ketika kau bercerita tentang latar belakang Murya, katakanlah kepada adik mu tentang orang yang selalu membantu mu, kebencian hanya akan menyebabkan kebencian, ku mohon kepada mu ini sebagai permintaan ku yang terakhir Ahenkara, maafkanlah kak Susima”

Ahenkara meminta agar ashoka memberkati adik kecilnya, Ashoka mencium kening dan memeluk adik kecil Ahenkara, mereka berdua menangis berkaca-kaca.

Ashoka memberikan adik kecil Ahenkara, ketika Ashoka memegang tubuh adik kecil Ahenkara lalu tiba-tiba Ahenkara melukai keningnya dengan membeturkan tangan ashoka ke keningnya, kening ahenkara terluka karena terbentur besi, Ashoka terkejut “Ahenkara kening mu berdarah mengapa kau melakukannya?”

Ahenkara tidak mau mendengarkan ucapan ashoka ia pergi meninggalkan Ashoka membawa adik kecilnya yang ia gendong

Di tempat pengobatan tabib, cahru berfikir tentang saat-saat terakhir mereka bersama-sama yang telah mereka habiskan dengan susima, ketika cahru merasa amat sangat bangga dengan susima karena ia menjadi sang penguasa untuk menggantikan yang mulia bindusar

Sementara dengan sangat telaten Dharma terus merawat dan memberikan pengobatan untuk susima, Dharma memberikan treatmen khusus di luka yang menghitam, dengan sangat sabar ia terus menunggu perkembangan Susima

Bindu melakukan puja untuk kesejahteraan anak-anaknya, ia berfikir tentang semua kebaikan ashoka ketika ia menyelamatkannya dari musibah kebakaran, dan semua masa bahagianya di hutan besama dengan ashoka, pikiran Bindu sangat bimbang.

Dikamar Siamak, Siamak duduk termenung ia menanis memikirkan Ashoka yang selalu membantunya saat peayaan upacara memceahkan kendi mentega dan kebahagiaan mereka berjuang bersama-sama bersama Ashoka dan juga Susima

Ibu suri Helena bertanya kepada Siamak

Helena :”Siamak”

Helana membelai wajah siamak dengan kasih sayang

Siamak :” Ke dua sudara ku sangat baik kepada ku, tapi sekarang?”ketika itu mungkin saja Ashoka bisa membunuh kak susima”

Helena :” Setiap kejadian tetagis mengajarkan kita suatu hal tentang diri kita dan juga sikap kita terhadap orang lain”

Helena terus menghibur Siamak

Helena berfikir bahwa besok masa kegelapan akan segera berlalu dari kehdupan Siamak dan juga dirinya, tidak akan ada yang merasa keberatan karena kau hanya kandidat satu-satunya yang paling layak untuk mendapatkannya, itulah janji ku kepada putra ku Justin”

Di penjara, prajurit memandikan Ashoka, Ashoka hanya diam terpaku tatapan matanya menyimpan kesidihan, ia bersiap berpakian untuk menjalani hukuman yang sudah divoniskan kepada dirinya.

Prajurit memberi ashoka makan terakhir untuk dirinya. Ashoka hanya terdiam, parajurit mengatakan makanlah hukuman akan segera dilaksanakan tidak ada waktu lagi untuk menunda.

Dharma terus melakukan hal yang terbaik untuk kesembuhan Susima, ia memberikan ramuan yang harus diminum Susima. 

Sementara di tempat bindu melakukan pemujaan, pandit sedang membacakan mantra, sebelum ia menghukum ashoka ia berdoa 

Di penjara, Seorang pandit duduk ia membacakan isi kitab suci kepada Ashoka, Ashoka hanya terdiam terpaku ia juga tidak mendengarkan apa yang pandit katakan.

Ashoka pergi meninggalkan penjara bersama dengan prajurit dengan pakaian serba putih dengan tangan dan kaki yang terantai, semua orang sudah berkumpul untuk menyaksikan vonis hukuman mati Ashoka

Bindu sangat terpukul, ia berfikir tentang bagaimana ia meminta agar Ashoka tidak meninggalkan tanggung jawabnya kepada suadara tirinya yang sangat kejam saat ketidakhadiran dirinya untuk sementara waktu

Aakramak dan juga radhagupta sangat cemas

Kaalatak tersenyum sangat senang melihat hukuman yang akan Ashoka jalani

Bindu mengatakan kepada Ashoka :”Apa kau mempunyai keinginan terakhir?”

Ashoka menginginkan agar rantaniya dilepas untuk sementara waktu

Saat itu kaalatak ketakutan, tetapi bindu memerintahkan agar prajurit melakukan apa yang Ashoka inginkan sebagai keinginan terakhirnya.

Ashoka berjalan menuju singgasana ayahnya, ia bersujud meminta berkah kepada ayahnya

Bindu masih sangat marah dengan ashoka, ia membuang wajahnya dan tidak mau melihat wajah Ashoka.

Kilas balik ketika semua kejadian diri ashoka menjadi Agradoot dan bertarung dengan Susima, ia juga mengingat ketika ashoka menodongkan belati dilehernya.

Ashoka mencakupkan tangannya dan meminta kepada ayahnya untuk merestuinya dan sebagai keinginan terakhirnya.

Di depan ayahnya, Ashoka meminta :” jangan salahkan ibu ku lagi, ia tidak tahu apapun, jagalah ibu untuk ku agar kematian ku tidak sia-sia ayah”

Hati bindu iba dengan permintaan ashoka, ia kemudian membelai rambut dan juga wajah ashoka dan kembali memalingkan wajahnya”

Keesokan harinya, matahari sudah terbit, Ashoka sudah berdiri di depan tiang gantungan, prajurit mulai mengikat kedua tangan Ashoka, dan memasangkan kain hitam di wajah ashoka dan mengalungkan tali di leher Ashoka

Aakramak dan juga Radagupta sangat tidak tega melihat Ashoka mereka tertunduk dan memejamkan mata mereka

Lain halnya dengan Mahamadya Kaalatak, ia masih bisa tersenyum bahagia ketika hukuman mati Ashoka akan dilakukan di tiang gantungan.

Kembali ke tempat pengobatan tabib dimana Dharma terus merawat luka Susima dengan sangat telaten perlahan-lahan mata Susima terbuka ia memanggil “Ibuuu”

Dharma tersenyum dan ia terharu dengan keajaiban yang terjadi pada susima, begitu juga dengan Cahru yang sangat bahagia melihat putra kesayangannya kembali tersadar. Begitu juga dengan para tabib mereka sangat bahagia melihat perkembangan Susima yang sudah mulai tersadar.

Di tempat tiang gantungan Ashoka, bindu memberikan isyarat bendera merah kepada algojo, dengan perlahan-lahan algojo mulai menarik tuas, papan penyanggah kaki Ashoka sudah terjatuh posisi kaki Ashoka setengah tergantung, tiba-tiba Chanakya datang dan meminta agar yang mulia menghentikannya.

Perecap : Dipengadilan Chanakya bertanya kepada Susima “Mengapa disaat hari naas mu kau tidak mencoba untuk melarikan diri dari serangan ashoka?”

Susima memberikan jawbaan :”sulit bagi ku, ia terus memukuli ku” jawaban Susima terus berkelit.

Ahenkara datang ke pengadilan untuk memberikan keterangan di pengadilan, Ashoka terkejut melihat kedatangan ahenkara di pengadilan.
Sumber http://www.portalsinopsis.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *