Ashoka 206

Bagikan

Malam hari, Bindu masih bertanya kepada Ashoka di penjara. 

Ashoka memberikan jawaban kepada ayahnya :”Ayah aku hanya menyelamatkan putri Ahenkara”

Bindu menjadi bertambah penasaran dengan hubungan antara Ashoka dan juga Ahenkara “Kau punya hubungan apa dengan ahenkara ashok?”

Bindu :” mengapa Kau menyerang kakak mu sendiri hanya karena ahenkara, apakah hubungan kalian berdua lebih dalam dari pada hubungan kakak mu?”

Ashoka :”Bagi ku, Ahenkara hanyalah kakak ipar ku ayah (Bhabhinya) “

Bindu :”Benarkah kau hanya menganggap ahenkara sebagai kakak ipar mu dan kau tidak mencintainya, itu membuat ku bertambah ragu pada mu. Kau tidak punya hak untuk mencampuri urusan mereka berdua”

Bindu kembali bertanya :”Apakah kau yang mencelakai saudara mu sendiri?. “Besok kebenarannya akan terungkap, ini akan menjadikan shusima menjadi raja magadha bukan kau, aku bukan lagi ayah mu, dan bahkan besok aku tidak bisa menyelamatkan diri mu jika kau menerima semua kesalahan mu !”

Bindu pergi meninggalkan ashoka di penjara, ashoka menangis dan ia bingung dengan ucapan ayahnya.

Keesokan paginya, semua orang sudah berkumpul diruang persidangan. Bindu berjalan menuju singgasananya. Helena sangat berharap Chanakya segera datang sebelum semuanya terlambat, begitu juga dengan Radhagupta ia juga menginginkan kehadiran chanakya ke Magadha tepat waktu”

Beberapa prajurit, membawa ashoka yang terantai dan dipasung oleh kayu, dharma dan juga ahenkara sangat sedih melihat keadaan ashoka mereka mencemaskan ashoka.

Ashoka hanya sanggup menatap wajah dharma yang sangat sediih 

Semua orang di pengadilan tersentak kaget melihat keadaannya.

Shubarasi terkejut melihat keadaan ashoka yang dirantai dan terpasung

Drupat bingung mengapa kakaknya sampai di hadapkan di pengadilan

Kaalatak mulai membuka acara pertemuan sidang untuk mengadili ashoka, di depan semua orang, kaalatak mengatakan : “Ini merupakan hari yang buruk untuk Magadha, semua rakyat Magadha sangat mencintainya, tapi ashoka mencoba untuk membunuh kakaknya sendiri, shusima masih tergeletak dan berjuang untuk hidup, ashoka hanya mengambil sikap apa yang menurutnya salah, apakah hal itu bukan merupakan kejahatan?”. Di Magadha kebenaran dan juga keadilan akan di tegakkan, ketika Murya Varsh datang besama-sama untuk mengakhiri ketidakadilan dan melepaskan semua atribut kejahatan yang lain di dunia, ini membuktikan bahwa tindakan ashoka sangat bertentangan dengan aturan hukum Negara kami, ia pun menjadikan dirinya sebagai Agradoot dan memberontak melawan kami. Selain itu, ashoka juga menciptakan masalah bagi saudaranya sendiri dengan menciptakan ketakutan di Pataliputra”. “ Hari ini, hari yang paling sangat menyedihkan dalam sejarah Magadha, Ashoka tidak hanya menyerang kakanya shusima, tetapi juga ia menyerang raja ketika ia berada disana, untuk itulah aku berada disini untuk meminta keadilan kepada raja”

Kilas balik ketika bindu tidak sengaja mendorong Dharma dan membuat ashoka memanggil nama ayahnya dengan sangat emosi dan menodongkan pisau di leher bindu.

Bindu bertanya kepada ashoka : “Mengapa kau melakukan hal itu ashoka?”

Charumitra menegur ashoka :” Mengapa kau mau mencoba membunuh putra ku, padahal aku merawat ibu mu ketika ia sakit?”

Siamak :”Jawab kak, mengapa kau tega melakukannya bicaralah kak”

Acharya lain pun bertanya :”Mengapa kau melakukannya ashoka?”

Ashoka hanya terdiam

Radhagupta dan ahenkara pun meminta agar ashoka berbicara 

Ahenkara :”Ashok katakanlah bahawa kau tidak melakukannya aku yang salah ku mohon ashoka”

Radhagupta :”Jawablah ashoka, sebelum semuanya menjadi terlambat beritaulah raja apa yang sebenarnya terjadi”

Dharma pun meminta agar ashoka mau berbicara “ Bicaralah nak, aku tidak akan pernah bisa hidup tanpa mu ashok”, Dharma menangis sedih

Bindu berjanji untuk mengatur dan mengurus agar segalanya berjalan dengan sangat baik dan benar

Bindu :”Ashoka, katakanlah tentang kebenarannya sekali saja”

Ashoka berfikir, lalu ia mengatakan kepada ayahnya “Aku tidak pernah menyerang kak shusima ayah”, ia menangis sedih

Bindu bangun dari singgasananya dan menghampiri putranya

Semua orang sangat senang, terkecuali cahru

Bindu :”Aku tidak akan pernah melakukan kesalahan lagi putra ku, aku tidak akan melakukan ini pada mu”

Bindu meminta agar prajurit membebaskan ashoka dari pasungan dan rantainya, ia membelai wajah ashoka dengan kasih sayang. 

Ashoka tersenyum bahagia melihat senyum di wajah bindu

Tetapi sayang, itu semua hanyalah mimpinya, ashoka sangat menyadari tidak mudah baginya terbebas dari hukuman yang akan ayahnya berikan kepada dirinya.

Bindu kembali bertanya :” Mengapa kau tidak mau menjawabnya ashoka?”

Ashoka :” Aku saat itu tidak punya pilihan, saat itu aku tahu semua tindakan shusima, saat itu pun aku tahu tentang ketidakadilan yang terjadi pada para pengungsi, aku pernah mencoba berbicara pada kak shusima, tetapi dia tidak pernah mau menanggapinya serius”

Kaalatak berdalih :” Tidak ada bukti apapun, ia sendiri sebagai biangkeladinya”. “apa mereka semua memiliki bukti untuk membuktikan bahwa tidak ada ketidakadilan pada siapapun seperti ucapan mu ashok, semua orang yang mau mendukung mu, mereka semua pembohong”.

Ashoka : “Ketika itu aku menginginkan shusima menyelidikinya, tapi shusima sama sekali tidak mau mendengarkan aku, aku pikir untuk mengungkap semua kebenaran itu aku harus menjadi Agradoot untuk membantu mereka, itulah mengapa aku menjadi Agradoot”

Kaalatak terus berbicara dan menentang semua ucapan ashoka dengan memberikan contoh lain, seperti misalnya ketika ashoka/ agradoot menghetikan shusima

Kaalatak :” Bahkan ketika itu pun kau tidak membiarkan shusima bertemu dengan semua para pengungsi, apa motif dibalik semua itu ashok, tentunya kau tidak cukup percaya kepada kakak mu sendiri atau itu semua hanyalah rasa keegoisan pribadi mu, dari orang yang menginginkan mencari niat baik kakak mu?”

Ashoka menyangkal :”Tidak itu semua tidak benar”

Kaalatak kembali menegaskan :” ashoka sangat cemburu kepada shusima, bukankah ia mengatakan bahwa ia tidak tertarik pada tahta, tapi ia menanam benih pemberontakan dimasyarakat, ia menyerang saudaranya sendiri untuk menyembunyikan semua kebenarannya”

Ditempat Daastan, Dastan sedang mengumpulkan semua pasukukannya, Rani Noor sudah bersiap untuk pergi bersama mereka, Noor menarik nafas , ia sangat tegang dan hanya memaksakan diri untuk tersenyum saat ia memasakan tali hitam di tangan Daastan. Daastan memerintahkan agar semua anak buahnya bersiap-siap. Noor menghampiri kuda, dan ia mendapatkan ide, ketika itu Noor mencoba untuk menaiki kuda, ia berpura-pura terpleset dan terjatuh mengenai batu, noor menjerit kesakitan.

Daastan berlari mendekat menghampiri Noor dan membantunya berdiri, noor menjerit kesakitan, Daastan memapahnya dan membawanya pergi

Kembali kepengadilan ashoka.

Ashoka :” Aku tidak serakah dengan harta”

Bindu mengingatkan ashoka untuk kembali fokus pada inti maslah utamanya

Bindu :”Kau menyerang saudara mu sendiri atau tidak ashok?”

Ashoka pun masih mengakui bahwa ia melakukannya

Kaalatak tersenyum licik dan menanggapi :” aku akan meminta raja untuk tidak menundanya lagi agar segera mengambil keputusan saat semua orang sudah mendengarkan semua keterangannya”

Ahenkara :”Itu semua tidak benar”

Cahru menegur dan memarahi ahenkara bahwa ia mendukung orang yang mau membunuh calon suaminya.

Ahenkara ketakutan dan dia menghentikan ucapannya

Dharma pun berbicara untuk mendukung putranya 

Dharma :” Ashoka tidak akan pernah bisa membunuh siapapun”

Helena pun sangat khawatir dan ia pun berpendapat :” Ketika orang tidak sadar akan kemarahannya, ia bisa menyerang ayahnya sendiri, semua orang tahu antara ashoka dan shusima mereka bedua saling bermusuhan, aku sangat paham ashoka masih sangat muda ia tidak dapat mengendalikan emosi dan mengendalikan dirinya, bahkan aku tidak mau ashoka bernasib sama pada nasib Justin, itu semua karena kebencian dan kecemburuan yang akan menjadi masalah pada masa depan Magadha hanya dengan menghukum kejahatan ashoka”

Dharma menyangkal:” ashoka tidak berniat untuk menyakiti saudaranya”

Cahru kesal : “Jika memang ashoka tidak berniat untuk menyakiti shsuima, shusima sudah kehilangan begitu banyak darah, disaat ajal kematiannya hampir datang apakah shusima berbohong, ini sudah sangat jelas mengenai semua motif ashoka, ia ingin membunuh saudaranya”

Biindu antusias mendengarkan semua keluhan dan ungkapan perasaan cahrumitra

Perecap : Diruangan sidang. bIndu mengumumkan bahwa ashoka bersalah dan dia akan dijatuhakan hukuman mati.

Bidnu :” Ashoka harus dihukum mati!”

Dharma terkejut dan shock menatap Bindu.
Sumber http://www.portalsinopsis.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *