Ashoka 203

Bagikan
Ahenkara masih bergelantungan pada kusen jendela, ahenkara terus memohon kepada shusima untuk jangan menyakiti dirinya “Tolong bantu aku shusim”
Shusima :” Aku tentu saja akan membantu mu, tapi ini akan terasa sedikit menyakitkan, semua rasa sakit mu akan pergi setelah itu”
Shusima menuangkan minyak di lilin, membuat ahenkara menjerit dan menangis, ahenkara melepaskan tangan sebelahnya pegangannya di kusen jendela, shusima sangat menikmati semua permainannya menyiksa ahenkara
Shsuima :”Aku akan menganggapnya itu sebagai kecelakaan biasa, dan tidak akan ada orang yang tahu aku yang sudah membunuh mu”
Shusima kembali menuangkan minyak di lilin pada tangan ahenkara, ahenkara setuju ia mau melakukan apa saja dan menuruti semua perintah shusima
Ahenkara kembali menjerit menahan panasnya minyak yang dituangkan oleh shusima dan melepaskan pegangannya pada jendela, ia hanya bergantung hanya bertumpu pada tangan sebelahnya.
Agradoot/ ashoka datang dan ia mendorong shusima, ketika ahenkara akan terjatuh ia menarik tangan ahenkara dan membatunya naik, agradoot / ashoka sudah membawa adik kecil ahenkara, ahenkara langsung memeluk adik kecilnya di tempat tidur di tempat tidurnya, ahenkara menangis. 
Shusima bangkit dan langsung berhadapan dengan agradoot/ Ashoka
Shusima sangat marah:” Dia hanya mengharapkan kau saja”
Shusima mengeluarkan pedangnya dari sarung dan langsung menyerang, agradoot/ ashoka menangkis serangan shusima
Shusima :”Semua kebenarannya akan keluar sebelum semua orang sampai disini”
Dua bersaudara saling bermusuhan, mereka bertarung pedang, shusima tahu bahwa agradoot/ ashoka tidak akan pernah dapat membunuhnya
Agradoot/ ashoka :” Malam ini, Tidak akan ada orang yang akan menyelamatkan mu”
Pertarungan sengit antara dua orang saudara membuat ahenkara schok melihat mereka bedua berkelahi dan saling menyerang satu sama lainnya, agradoot/ ashoka terus menangkis serangan shusima, shusima mendorong agradoot/ ashoka, mereka kembali bertarung dan saling melawan kekuatan tangan , dan mengeluarkan banyak tenaga. Agradoot/ ashoka menendang shusima, ia terjatuh di sofa dan agradoot melilitkan kain pakaian shusima di mulutnya, agradoot/ ashoka terus menghjar shusima, agradoot berfikir : “Aku tidak ingin melanggar peraturan apapun disini, tapi dia terus memakasa ku untuk melakukannya”
Agradoort melempar barang kearah shusima, agradoot menginjak tangan shsuima dan menuangkan seluruh isi minyak dari tempat lilin ke shusim, shusima kepanasan shusims berusaha menutupi tangannya dengan kain bajunya 
Agradoot/ ashoka :” Ini untuk orang yang sangat mencintai mu”
Agradoot menyeret shusima dan menendang shusima :”Dan ini untuk adik kecil yang dipisahkan dari kakaknya”
Ahenkara bertambah schok dengan pertengkaran kedua saudara itu
Shusima mencoba untuk menyerang tapi semua usahanya sia-sia dan gagal
Agradoot terus mengahajar shusima, shusima kalah telak di dekat jendela, shusima sengaja menjatuhkan vas bunga dan membuat parjurit tersentak kaget dan ia melihat dua orang sedang berkelahi, agradoot terus membenturkan kepala shusima di kusen jendela
Di kamar Bindu, cahru sedang berbicara kepada yang mulia Bindusar, 
Bindu :”kau datang kesini pasti dengan alasan khusus”
Cahru meminta maaf kepada bindu atas nama shusima, “niatnya sungguh-sungguh untuk mendukung Magadha sepanjang waktu”
Bindu hanya mendengarkan ucapan charu
Cahru :” Agradoot, ia terus mencoba untuk menghasut warga sehingga mereka menyerang shusima, dia sudah berhasil melakukannya, ashoka berada dibawah pengaruhnya”. “Jika agradoot mau menunjukkan wajah aslinya pada semua orang maka semua orang akan mengerti , shusima sudah pernah melakukan hal itu untuk membuktikan bahwa agradoot adalah penghianat, shusima telah membuktikan bahwa dia mampu untuk memerintah di masa yang akan datang”
Prajurit dating ke kamar yang mulia Bindusar dan memberitahu kepada Bindu tentang agradoot yang terus menyerang pangeran shusima, cahru dan bindu merespon ucapan prajurit dan langsung berlari ke kamar ahenkara diikuti oleh bebrapa orang prajurit mereka berdua sangat panik 
Bindu mengetuk pintu kamar ahenkara, ahenkara meminta agar agradoot pergi lewat dari jendela, tetapi agradoot / ashoka menolak “ malam ini Aku akan menceritakan semuanya kepada yang mulia Bindusar, tidak ada keadilan disini”
Shusima bangkit dan ia ingin menyerang agradoot dengan pedangnya, ia akan menyerang Agradoot/ ashoka namun ahenkara menarik agradoot/ ashoka dan mengambil pisau di keranjang buah dan tak sengaja menusuk perut shusima
Shusima seketika terjatuh di lantai dan ia sekarat bersibah darah dan pisau menancap di perutnya ia menatap ahenkara, agradoot berlutut disamping kakak tirinya yang sedang sekarat.
Agradoot / ashoka :”Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi kepada mu kak bertahanlah”
Ahenkara menghawatirkan dirinya sendiri dan mengatakan kepada agradoot “ Jika yang mulia bindusar tahu aku yang melakukannya maka ia akan membunuh ku seperti dia membunuh ibu ku, tolong aku”
Kilas balik ketika bindu menebaskan pedangnya pada Niharika dan ia langsung mati ditempat
Di luar, semua cahru histeris memanggil “Shusim”
Agradoot/ ashoka mencabut pisau yang tertancap pada perut shusima, ashoka meyakinkan bahwa tidak akan membiarkan apapun terjadi pada ahenkarta” Aku akan memberitahu segalanya pada yang mulia”
ashoka sedih melihat keadaan saudara tirinya yang sekarat.
Pintu kamar ahenkara yang di dobrak paksa oleh beberapa orang prajurit dan berhasil terbuka, Bindu dan charu masuk kedalam, semua orang terkejut pisau yang berlumuran darah shusima di tangan agradoot/ ashoka.
Cahru langsung berlari menghampiri dan melihat keadaan putranya shusima, dan prajurit mengangkat shushima yang sedang keritis
Kaalatak menunjuk bahwa agradoot/ ashoka “dia selalu melawan shusima sejak awal, ia pun ingin membunuh shusima”
Bindu mengambil pedangnya seolah ia ingin menyerang agradoot/ ashoka, ashoka pasrah kemudian bindu membuka penutup wajah agradoot, Bindu terkejut melihat bahwa agradoot ialah ashoka
Semua orang terkejut melihatnya, 
Ahenkara tersentak kaget ia berfikir :”Jadi ia ashoka” wajahnya berubah tertengun 
Kaalatak :”Kau agradoot, pangeran ashoka?”
bindu masih tidak mempercayai apa yang ia lihat
kilas balik ketika di ruang persidangan semua orang menjelekan agradoot tapi ashoka dengan tenang terus membela agradoot 
Ibu suri Helena pun berada dikamar ahenkara, ia juga bertanya-tanya mengapa ashoka mau melakukannya
Bindu pun juga bertanya kepada putranya :”Mengapa kau melakukannya ashok?”
Ashoka menjawab bahwa ia ingin menceritakan semuanya selama ketidak hadiran ayahnya diistana tapi seketika Kaalatak menghentikannya :” “Kebenarannya sudah sangat jelas dihadapan semua orang pangeran ashoka”
Helena ingin mendengarkan cerita ashoka tetapi bindu sama sekali tidak tertarik “ia sudah melukai sudaranya”
Di tempat tabib, charumitra terus menangis, ia sangat menghawatirkan keadaan shusima yang sangat keritis, darah terus keluar dari perutnya.
Tabib mencoba menghentikan aliran darah tetapi darah pun semakin deras keluar, tabib membakar pisau, ia akan segera melakukan tindakan untuk menghentikan pendarahan. 
Cahru terkejut melihat apa yang akan dilakukan oleh tabib
Cahru :”Putra ku sudah banyak menderita, carilah cara lain untuk menghentikan pendarahannya ”
Cahrumitra menangis sedih ia juga schok melihat keadaan putra kesayangannya tergeletak dan keritis
Tabib mencoba memberitahu bahawa hanya dengan jalan itulah dapat mengentikan pendarahan yang keluar dari perut shusima, ia memberikan penjelasan kepada cahru bahwa hanya dengan cara itulah sebagai jalan satu-satunya untuk menghentikan pendarahan di perut shusima, darah segar terus menetes keluar. Membuat cahru tampak lemas melihat keadaan kritis shusima. Ia terus memanggil nama putranya shusima. 
Cahru kemudian pasrah dan menyetujui apa yang tabib katakan “Lakukan hal yang terbaik untuk menyelamatkan putra ku”
Di kamar ahenkara, semua orang masih terkejut mengetahui dan menyaksikan kebenaran tentang agradoot adalah pangeran ashoka
Kaalatak : “Membunuh shusima dengan pisau ditangannya, itu sudah merupakan bukti yang mulia”
Bindu :”Aku tahu putraku tidak akan pernah mampu untuk menyakiti kakaknya, aku tahu siapa yang telah melakukannya, aku pun akan tahu dan berharap semua ini akan baik-baik saja untuk shusima”
Bindu menunjuk ahenkara dan ia marah padanya :”Ular tetaplah ular, aku sulit untuk mempercayai hal ini tapi hari ini sudah terbukti darah penghianat akan membuatnya menjadi penghianat, aku sangat berharap mendengar semua itu dari shsuima”
Bindu membentak ahenkara : “Seharusnya yang dihukum hanyalah ahenkara, aku tahu ini semua dilakukannya untuk membalas dendam kepada ku, kami menyambut mu dengan membuka hati kami, putra ku shusima sangat mengashi mu, dia sangat percaya kepadamu tapi kau malah mencoba untuk mebunuhnya”
Ahenkara menangis ketakutan di belakang ashoka
Bindu ingin menyerang ahenkara dengan pedangnya, ashoka menangis, ia menangkis serangan pedang bindu dengan pisau yang telah berlumuran darah shusima, ia membela ahenkara di depan semua orang dan menentang ayahnya
Dharma tersadar dari tidur panjangnya, “Mengapa aku bisa berada disini”
Kemudian ia mengingat putranya ashoka, ia bangun pergi dari kamar itu
Bindu sangat schok melihat rekasi ashoka yang menodongkannya pisau berlumur dengan darah
Ashoka : “Ahenkara tidak harus disalahkan, aku yang sudah meyakiti saudara ku sendiri ayah”
Bindu tidak mengatakan apapun dan ia menurunkan pedangnya begitu juga ashoka ia menurunkan pisau itu dari leher ayahnya.

Perecap : Bindu menapar ashoka, dharma sangat terkejut, dharma mencoba untuk mendekati putranya ashoka, tetapi bindu sangat emosi dan ia mendorong Dharma, dharma terjatuh. ashoka tidak terima perlakuan ayahnya kepada ibunya, Ashoka memanggil nama ayahnya dengan sangat marah “Ayaaaah” dan kembali menaruh pisau yang berlumuran darah pada leher ayahnya, semua orang sangat terkejut dengan sikap ashoka.
Sumber http://www.portalsinopsis.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *